“Kok pulang malam lagi sih ?” tanya Otty. “Persiapan produksi, ini aja dari workshop” jawab Bakar sambil terus mengunyah makanan yang disediakan istrinya. “Kamu kayaknya engga ikhlas gitu aku pulang malam !“ timpal Bakar dengan nada suara mulai meninggi. “Jaketmu bau parfum !!“ jawab Otty kalem lalu bergegas menuju kamar. Ini tak biasa. Biasanya kalau suaminya makan, Otty selalu menemani. Tapi entahlah, malam ini tidak begitu. Otty begitu marah karena pertanyaannya dijawab dengan nada yang meninggi, jangan-jangan ?... kecurigaannya benar adanya.
Di ruang makan Bakar tersadar, suara meningginya tadi mungkin mengagetkan belahan hidupnya. Selesai makan dia membereskan bekas makan dan bergegas menuju tempat cucian, kemudian diambilnya jaket yang dipakainya tadi siang..
Haahh ?.. hmm iya betul, tapi parfum siapa ini ? dia bicara sendiri. Malam berganti. Selesai shalat subuh, Bakar bersiap menuju tempat kerjanya, di sebuah production house sebagai Art Director. Sarapan pagi ini terasa hambar. Salam perpisahan menjadi dingin dan irit kata-kata bahkan nyaris berlalu dalam diam. Bakar berangkat bekerja dengan setumpuk tanda tanya tentang bagaimana cara mencairkan suasana yang telah membuatnya sangat risih. Kamu belahan jiwaku, istriku. Kalau kau gelisah, akupun demikian.
Di tempat lain, dengan langkah semangat Otty menuju Mts. Al Ikhlas tempatnya mengajar. Murid-muridku adalah manusia harapan masa depan bangsa ini. Mereka tidak boleh terganggu gara-gara kecurigaanku yang berlebihan. “Ah…lupakan saja soal parfum itu. Pling juga kang Bakar menggantungkan jaketnya di studio kantornya. Ya ampun !“ tiba-tiba Otty tersentak. “Astaghfirullah hal adzim ! aku baru iingat, tiga minggu yang lalu suamiku bilang akan shooting pembuatan iklan splash cologne ABG“.
Otty baru saja selesai shalat isya, suaminya pulang dari kantor. “Soal parfum…” Bakar memulai pembicaraan. “Ssstt.. mandi dulu sana“, lanjut Otty lirih. “Makan yuk ?” ajak Bakar “aku engga pingin” jawab Otty. “Ya sudah aku makan sendiri saja deh“ lanjut Bakar.
Usaha perdamaian Bakar menemui kegagalan. Kegagalan bukanlah kesalahan. Kita punya peluang yang sama untuk berhasil. Tinggal gimana kita memulainya, dan memulai sebuah langkah memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Bakar baru teringat ketika di perjlanan pulang dia membeli roti bakar untuk istrinya yang dia letakkan di atas meja makan. Ternyata bungkusnya pun belum dibuka oleh Otty.
Lewat tengah malam Otty terbangun. Perutnya keroncongan karena karena tadi sore di belum makan. Di meja makan, Otty melihat ada bungkusan. Apa yaa?.. wah ternyata 2 porsi roti bakar. Walau sudah dingin, Otty tetap melahapnya. Perlahan Otty menikmati manis gurihnya selai stroberi bertabur coklat, messes dan keju parut. Dia meresapi rasanya, juga meresapi kenangannya, tak terasa roti bakar habis tak tersisa. Ternyata roti bakar dan segelas ovaltine adalah makanan perkenalan mereka dulu sewaktu kuliah di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Roti bakar memadukan mereka dalam sebuah ikatan rasa, sampai kemudian berkomitmen bersama mengarungi biduk rumah tangga.
Yaa, ternyata empat tahun sudah pernikahan Rotifah alias Otty dengan Abu Bakar Hidayat alias Bakar. Pertengkaran pada dua malam ini, bukanlah pertengkaran biasa. Hanya kesalah pahaman yang belum terkomunikasikan, hal ini bisa terjadi akibat terganggunya komunikasi hati sepasang suami istri.
Pagi hari pun datang, Bakar merasa gagal menjalankan misi perdamainnya tadi malam. Tapi ya sudah ia serahkan kepada Allah semata. Bakar pamit pada istrinya untuk pergi bekerja. Tiba-tiba Otty menarik tangan Bakar, ia meminta maaf atas kesalahpahamannya kemarin. Kemudian Otty mencium tangan Bakar dan berbisik manja “roti bakarnya enak lho.. bawakan lagi yaa…!!”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar